iklan hut ri ke 75 kelurahan wapunto

Hanya Melaksanakan Takdir

Cerpen. Muhammad Syahrial Ashaf

Hanya Melaksanakan Takdir

Iklan yang dipasang H. Firman di Koran Lafal Wuna menjadi perhatian serius warga di kotaku yang berpenduduk 245 ribu jiwa. Yaitu kehilangan dompet miliknya, dan bagi yang menemukannya akan diberikan hadiah Rp 100 juta. Spekulasi berkembang, isi dompet itu sekitar Rp 1 Milyar atau lebih, sebab mana mungkin hadiah akan diberikan Rp 100 juta, jika isi dompet  hanya Rp 60 juta, sehingga para normal menjadi laris untuk dimintai pendapatnya.

                Ratusan tukang ojek tak beraktifitas, akibatnya ibu ibu yang ke pasar harus jalan kaki. Demikian pula nelayan tak melaut, buntutnya  harga ikan menjadi mahal dan sulit untuk didapat, semua fokus untuk mencari dengan harapan menemukan dompet milik H. Firman. Semua tergiur untuk mendapatkan uang  R 100 juta, agar bisa merubah hidup.

                Misalnya, Hardi, korban  PHK yang kini menjadi tukang ojek,  berobsesi dengan uang itu akan dibelikan motor sebagai pengganti motornya yang kini sudah tak layak lagi, lalu sisanya dijadikan modal untuk menjual sembako di depan rumahnya. “ Harus banyak istigfar jika ingin mendapatkan dompet itu. Jangan hanya melamun. Rejeki tak turun dari langit, tapi harus dikejar, “ Sindir  Rina yang dilihatnya suaminya melamun untuk mendapatkan dompet  itu.

                “ Saya membayangkan akan terjadi perubahan hidup kita, jika saya berhasil menemukan dompet itu. Saya tak lagi harus banting tulang, terkenah panas dan hujan saat membawa penumpang. Itulah yang saya bayangkan”

“ Sampai kapan bayangan itu ada di otakmu ?. “

“ Sampai saya berhasil temukan dompet itu. Kamu yang akan nikmati jika saya berhasil, sebab saya akan bangunkan kios untuk menjual sembako”.

“ Kamu ini aneh ya. Membayangkan membangun kios menjual  sembako. Saat ini saja tempat penyimpanan  beras sudah kosong. Saya tak tahu harus  masak apa untuk makan siang ini. Seharusnya bergegas  segera cari penumpang untuk beli beras dan tempe, bukan menghayal membangun kios sembako. Otak itu harus membaca yang nyata, bukan menghayal”.

“ Inikan baru rencana,” Suara Hardi meninggi.

“Ya, itu  baru rencana, tapi rencana itu harus realistis, “ Suara Rina tak kalah tingginya dari suara Hardi.

“ Lalu apa yang harus saya lakukan?”

“ Segera cari uang untuk beli beras. Dua anakmu perlu makan. Kedua anakmu tak akan kenyang dengan hayalanmu” Tegas Rina seraya menyerahkan kunci motor dan meninggalkan Hardi yang masih melongoh.  

                                                                *****

Di ruang tengah, H Firman dan isterinya Hj Yanti sedang ngobrol tentang proyek penanam jati yang kini sudah pada taraf pembebasan lahan. Tiba tiba muncul Tiara Maharani Ashaf , putri tunggalnya lalu  mengajukan pertanyaan tentang iklan yang dipasang ayahnya.

“ Sebenarnya berapa nilai uang di dalam dompet Ayah itu, sehingga harus membayar Rp 100 juta jika ada yang menemukannya ?”.

“ Di dompet  itu tak ada nilai uang, hanya tapak tilas keberadaan Tiara.”

“ Kok Aku yang menjadi fokusnya ?”.

“ Ayah dari Sulawesi dan Ibu dari Jawa. Tiara lahir di Bandung dan kini kita cari makan di Lampung, ini adalah sejarah yang harus diperjelas,agar Tiara bisa memahami dan mengenal leluhur di Sulawesi. Demikian pula kerabat di Sulawesi mengenal Tiara sebagai bagian dari dinasti keluarga H. Adnan dan memahami tentang Puang Guru secara utuh”

“Hmmmm maksud Ayah gimana ?” mata Tiara menampakan keheranan. 

“ Isi dompet itu berisi daftar leluhur atau silsilah Puang Guru, yang dimulai dari Andi Mapaitah sampai Ayah. Nama Tiara belum masuk, sehingga Tiara harus memahami silsillah keluarga,agar Tiara tak merasa asing atau hilang”.

“ Apakah itu penting ?”

“ Ya, sangat penting!”

“ Saat ini Tiara sering komonikasi dengan kak Aldy, lalu Kak Iggit, Kak Intan, Fira dan Imas. Lalu akau kenal Om Iyang, mama Nona dan Mama Mala, apakah ini masih kurang ?”

“ Masih banyak yang Tiara belum kenal. Dan yang tak kalah pentingnya, Tiara harus mengetahui dimana makamnya puang Guru dan Kakek H Nang. Semua itu ada di Sulawesi.”

“ Lalu kapan kita ke Sulawesi ?” Yanti nyeletuk

“ Secepatnya akan ke Sulawesi, jika  dompet itu sudah ditemukan”.

“ Horeeee, hore aku akan ke Sulawesi” Tiara beteriak teriak kegirangan.

“Kita akan  ke Sulawesi, lalu kita buat dokumentasi makam puang Guru  serta Kakek H. Nang. Semua harus Tiara ketahui”.

“ Saat Puang Guru meninggal,  berapa usia Ayah, “ Tanya Yanti.

“ Kalau tak salah, usiaku baru 7 tahun. Tapi saya sudah mengenalnya. Saya masih menyimpan memori dengannya. Biasanya, dia menyuruhku membacakan buku buku tentang Raja Raja   sejarah Sulawesi   sekatan sebagai pengantar tidurnya. Dan dia akan menegur jika saya melompat lompat untuk membacanya.Daya ingatnya masih jelas. Dia hapal sejarah dan Raja Sulawesi selatan , sehingga ketika saya membaca tidak runtut, spontan dia akan menegurnya, “

“ Kenapa Ayah membacanya tak runtut?”

“ Saya ingin main bersama teman teman, sehingga bacanya harus cepat. Tapi dia paham jika saya tak runtut membacanya”. Firman Tertawa lepas

“ Apakah hanya Ayah yang disuruh membaca?” selidik Tiara.

Mendegar pertanyaan anaknya, spontan Firman tertawa. Sebab posisinya hanya pengganti. Dia hanya digunakan jika pelaku utama tak hadir.

“ Kok Ayah tertawa, memangnya lucu pertanyaan Tiara ?”

Jedah sejenak.  Firman menangis membayangkan puang Guru. Suaranya berat dan berwibawah. Dia tak cukup waktu untuk bersamanya dan hanya mengenal dari cerita cerita yang sempat mengenal Puang Guru. Sosok puang Guru adalah pemberani  dan tak  mau kompromi. Apa yang dia katakan, itu senafas dengan hatinya. Dia menyesuaikan antara hati dan lisan. Ciri khas sebagai bangsawan Bugis sangat jelas terlihat.

“ Tugas membaca sejarah sejarah Sulawesi Selatan , itu untuk Om Iyang. Jadi kalau tak ada Om Iyang, barulah Ayah yang membacanya.”

“ Apakah Om Iyang sama dengan Ayah yang membacanya tak runtut ?” Tiara penasaran.

“ Oh tidak. Om Iyang membacanya sangat teliti dan runtut. Dia tak memiliki keberanian untuk lompat halaman kalau membaca, dia membaca setiap halaman secara detail?”

“ Apakah Puang Guru sangat sayang kepada Om Iyang ?”

“ Semua cucu cucunya diperlakukan sama. Puang Guru sangat moderat dan sayang semua cucunya, tak ada perberdaan. Hanya Om iyang adalah cucu pertama. Saat Puang Guru meninggal, usia Om Iyang 13 tahun. Dia banyak berdialog tentang kebenaran dan falsafah kehidupan.  Suatu saat menurut cerita Om Iyang, dia menanyakan mengapa saat ini banyak mantra mantra  yang tak sakti lagi. Puang Guru hanya menjawab, karena telah banyak yang menjadi pembohong, sehingga mantra itu kehilangan roh. Mantra itu harus digunakan yang berhati bersih dan jujur, serta memiliki kebeningan hati, antara kata dan perbuatan harus senafas dan seiramah ”.

“ Seberapa dekat Ayah menegenal Om Iyang”.

“ Om Iyang itu tipe yang penurut, tak pernah membantah sama Nenek Haji  Nia, Berbeda dengan ayah, mama Nona  dan Mama Mala terkadang  sering membantah nenek Haji Nia. Pokoknya Om iyang itu sangat penurut, sehingga tak ada dosanya sama Nenek Haji  Nia.”

“ Apakah benar Puang Guru itu sakti ya  ?“.

“ Tahu dari mana jika Puang Guru sakti ?”

“ Dari kakak Aldi. Dia sering cerita tentang Puang Guru. Kok Ayah tak pernah cerita tentang kesaktian puang Guru, “ protes Tiara.                     

    “ Apa yang kakak Aldy ceritakan ?’

“ Puang Guru jawara silat. Dia bisa bermain silat diatas 12 piring dan piring itu tak pecah. Lalu jepang sangat takut padanya. Jika dia berada di suatu rumah,  Jepang tak berani datang di rumah itu. Saking saktinya, pernah suatu saat layar perahu yang dia tumpangi patah, dan hanya dengan lemparan tali, layar itu kembali  bersatu. Pokoknya banyak deh yang kakak Aldy ceritakan tentang kesaktian puang Guru.”

“ Yah, itu benar yang kakak Aldy ceritakan. Nanti tiba di Sulawesi , semua Tiara akan ketahui tentang Puang Guru”.

Tiba tiba datang Ratna,asisten rumah tangga di keluarga  Firman,  memberi tahu ada seseorang di luar yang mau bertemu.

“ Persilahkan masuk dan buatkan kopi, “ perintah Firman.

Tamu itu adalah Ashari. Matanya mengamati foto dan lukisan lukisan yang terpampang di ruang tamu. Lalu dia perhatikan kursi kursi yang rata rata terbuat dari kayu jati yang  jumlahnya lima stelan. Ashari meyakini, pemilik rumah ini memiliki citra seni yang tinggi. Bahkan dia yakini, kursi kayu jati itu dibeli dari Kabupaten Muna, sebab modelnya unik dan langkah, yaitu dari akar kayu yang di Kabupaten Muna disebut gembol.

“ Asalamualaikum anak muda, silahkan minum kopinya” Sapah Firman dengan bijak,

Spontan Ashari berdiri menyalami Firman dan memperkenalkan nama, seraya mengatakan kekagumannya pada kursi kursi yang dibuat dari akar kayu jati, yang tentu saja harganya mahal. Sebab, hanya orang orang yang memiliki citra seni  tinggi yang mau membayar mahal untuk sebuah produk yang langkah.

“ Saya pernah membaca, akar kayu jati banyak di Kabupaten Muna, yang penduduk lokal menyebutnya gembol. Kemudian di buat kursi, meja dan hal hal lain” Ujar Ashari.

“ Ya, saya dari Kabupaten Muna. Walaupun aslinya, leluhurku dari Bugis-Mandar. Saya membeli gembol gembol ini, untuk mengingat Muna yang memiliki ciri khas sebagai penghasil kayu jati dengan kualitas terbaik. Bahkan menurut cerita, salah satu pijakan untuk  mempercepat Sulawesi Tenggara terpisah dari Sulawesi Selatan, karena Muna memiliki hutan jati sebagai andalan ” .

Ashari manggut manggut mendengarkan penjelasan H. Firman dengan retorika yang memukau.

“ Begini pak, saya kesini untuk menyerahkan sesuatu, semoga saya tak salah alamat. Saya temukan dompet ini di depan Masjid Baitul Makmur, dua hari lalu.  Saya  terlambat mengantarnya, karena saya tak tahu mau antar kemana. Namun tadi pagi saya ngobrol dengan tukang ojek yang biasa mangkal di depan Masjid Baitul Makmur. Dia bercerita, Pak Firman kehilangan dompet. Berbekal  informasi itu, saya kesini untuk menyerahkan , barangkali dompet ini adalah milik bapak. Saya belum buka dan tak  tahu apa isinya, “  Ashari lalu menyerahkan dompet itu.

“ Ya, benar itu milik saya. Isi dompet ini adalah sesuatu yang sangat berharga, yaitu silsilah leluhurku yang harus diketahui putriku.  Saya baru terimah seminggu yang lalu dikirim  Abangku di kabupaten Muna. Silsilah ini yang paling lengkap dan belum diperbanyak. Ini adalah bukti satu satunya yang dimiliki keluargaku, sebab jika hilang akan kesulitan untuk melacaknya, “

Ashari terharu, masih ada orang seperti  DR H. Firman, seorang akademis  yang sangat peduli dengan silsilah keluarga. Sebab, saat ini sudah jarang yang  berpikir seperti itu.

“ Maaf pak, saya mau tanya. Begitu pentinyakah silsilah keluarga sehingga harus dibuat khusus untuk putri bapak ?”.

“ Ya, sangat penting. Saat ini saya tinggal di Sumatera, lalu mayoritas  berdomisili keluargaku di Sulawesi. Anaku harus tahu siapa keluarganya di Sulawesi. Saya tak mau, anakku tak mengenal keluarganya, demikian pula keluargaku di Sulawesi harus mengenal anaku”

“ Ini pelajaran penting buat saya Pak. Tugas saya telah selesai, yaitu telah menyerahkan dompet milik bapak. Saya mohon pamit, saya mau ke kampus”.

“ ini ada sesuatu untuk anda sebagai ucapan terima kasih.”

“ Apa ini pak ?”.

“ Sesuai janjiku di iklan, siapa yang menemukan dompet,saya akan berikan uang Rp 100 juta”.

“ Mohon maaf pak, Jangan halangi saya  berbuat baik.. Saya tak mau terimah pemberian itu. Saya hanya mentunaikan kewajibanku untuk menyerahkan kepemilik dompet. Saya tak mengharapkan imbalan dari niat baik saya,”

“ Terimalah Dik. Saya ihlas” .

“ Pokoknya pak. Saya tak mau terimah. Saya hanya  menjalani takdir, yaitu  takdirku untuk berbuat baik kepada bapak. Dompet itu saya temukan, itu adalah takdirku menyerahkan ke bapak dalam keadaan utuh . Jangan gugurkan amalanku dan  berbuat baik yang saya lakukan hari ini, akibat saya menerimah pemberian dari bapak”.

“ Saya terharu mendengan penjelasan dan sikapmu. Ashari tinggal di Mana ?”

“  Saya kontrak di rumah Maemunah”.                   

                                                                                ****              

 

                Razak terkejut sekaligus binggung  dengan sikap  Ashari yang tak mau terimah pemberian dari H. Firman. Sementara orang orang sangat berharap untuk mendapatkan dompet itu dengan imbalan Rp 100 juta.

                “ Kamu ini manusia atau malaikat. Diberi uang Rp 100 juta  kamu nolak, dengan alasan hanya menjalani takdir. Kamu ini tolol atau bahlul sekaligus idiot ?“ semprot Razak

                “ Kamu tahu dari mana saya nolak pemberian H. Firman ?”

                “ Itu firal di media sosial. Semua heran dengan kamu. Saya tahu sudah 6 bulan kamu belum bayar kontrakan. Coba kamu terimah, lunas utangmu di Ibu Maemunah!”.

                “  Lalu apa yang salah dengan sikap  saya  ?”

                “ Ya, tentu banyak salahnya . Uang itu banyak manfatnya untuk kamu gunakan. Apakah kamu ingin buktikan, kamu ini idealis ya ?’

                “ Saya tak berpikir idealis, saya hanya menjalani takdir”.

                “ Apakah saat ini, kamu makan nasi dengan kerupuk, itu juga sebuah takdir ?”.

                “ Ya, bukankah tak ada sehelai daunpun yang gugur, jika bukan karena takdir Tuhan. Apa yang kita jalani hari hari ini, semua atas takdir Tuhan, dan kita harus jalani dengan  konsekwensi sebagai manusia yang bersaksi sebagi hambanya. Jadi jangan halangi saya berbuat baik. Toh saya tak merugikan orang lain. Saya percaya kemahabesaran Tuhan. Dan saya bersyukur masih bisa makan nasi dengan lauk kerupuk emping. Saya bukan mencari sensasi dengan firalnya percakapanku dengan H. Firman di Medsos. Itu adalah takdir !”.

                “ Apa alasan yang mendasar sehingga tak menerimah uang itu ?”

                “ Pertanyaanmu tak ilmiah. Apakah berbuat baik harus dibayar ?. Lalu apakah Apakah shalat dan amalan lain yang kita laksanakan, harus dibayar. Tentu jawabannya tidak kan ?. sebab kita mengharapkan ganjaran dari Tuhan. Sama juga dengan saya, ketika saya memberikan dompet itu, saya berharap Tuhan yang akan memberikan  ganjaran, bukan H. Firman “.

                Razak tersenyum dan memeluk sahabatnya, dan berkata semoga Tuhan memberi yang terbaik.

                                                                                *****

                    H. Firman sengaja datang menemui Ibu Maemunah disaat  Ashari ke kampus.  Agar dia mengetahui siapa sebenarnya Ashari. H. Firman salut dengan sikap dan pikiran pikirannya, yang mengaku hanya menjalani takdir. Apakah dia sufi ?, sebab di zaman yang edan ini, semua berpikir transaksional. Ashari adalah tipe anak muda yang telah lebih awal  mencintai kampung surga. Dia bayangkan, kenikmatan terindah adalah di kampung surga, bukan di dunia ini yang semakin gelap yang takaran moralitas telah tergilas.   

                “ Apakah  benar Ashari ngontrak di rumah Ibu ya ?” Tanya H. Firman.

                “ Ya benar,  sudah 6 bulan dia menunggak. Saya  tak tegah menagihnya, karena saya tahu dia tak punya uang. Untuk makan saja dia susah.” Jawab Maemunah dengan polos, sebaliknya membuat terharu dan tergugah H. Firman.

                “ Berapa sewa kontrakan pertahun ?”   

 “ Hanya Rp 6 juta pertahun”.

“ Kalau begitu saya bayar 2 tahun, sekalian ketunggakan 6 bulan, sehingga total Rp 15 juta. “

“ Apakah Pak Haji serius “.

“ Ya. Dan seandainya telah 2 Tahun masa kontrak berkahir, tapi Ashari masih tinggal. Hubungi    
    

Saya, nanti saya yang bayar. Dengan catatan, jangan ngomong sama Ashari, saya yang membayar sewa kontrakannya ya, “. Firman minta kegesan

                “ Apakah pak Haji keluarga Ashari?”

                “ Saya hanya menjalankan takdir. Tadi Ibu Maemunah katakan, untuk makan saja susah.Lalu dari sumber apa dia menghidupi dirinya ?”

                “ Yang saya tahu dia puasa senin- Kamis, Bahkan sering pula Puasa Nabi Daud.  Bahkan untuk sahurpun kadang saya yang berikan. Dia mendapatkan uang dari honor menulis di koran lokal, biasa 3 atau 4 tulisan setiap bulannya serta mengerjakan makalah  siswa SMA. Itu saja yang saya letahui. Dia sangat sabar, tak pernah mengeluh. Dia selalu katakan, semoga Tuhan memberi terbaik untuknya. Zikir dan pikirnya sangat jelas, tak neko neko    ”.

                “ Tolong rahasiakan pertemuan ini,jangan sampa Ashari ketahui”  Pinta H Firman seraya pamit lalu menyerahkan uang Rp 15 juta.     

                Maemunah heran,ada yang membayar sewa kontrakan Ashari. Dia bukan keluarganya. Apa yang telah dibuatnya. Apakah amalan puasa senin-Kamis  atau puasa Nabi Daud yang dilakoni Ashari yang menjadi petunjuk jalan, sehingga dia menerimah bantuan?. Maemunah tak menemukan jawaban. Yang dia ketahui, Ashari selalu Shalat tepat waktu di Masjid. Biasa dia muazin, bahkan sering pula menjadi Imam.

                Maemunah senyum senyum saat  melihat Ashari dan Razak datang bersamaan. Cuma ada yang aneh, Ashari memaknai jas lengkap dengan dasinya.

                “ Memangnya dari undangan pernikahan ya, kok pakai jas dan dasi segalah ?’

                “ Hari ini Ashari telah selesai menyelesaikan studinya. Tadi dia ujian skiripsi sehingga pakai jas saat ujian meja, “ terang Razak.

                “ Oh gitu ya. Jadi sudah jadi Sarjana ya ?. Sebentar malam setelah Magrib, kita syukuran, makan nasi kuning dan ayam goreng. Semua Ibu yang siapkan. Ibu bahagia, anak  Ibu telah jadi sarjana. Jadi undang beberapa temanmu yang biasa main disini  ”.

                Razak dan Ashari saling pandang. Keduanya heran. Baru kali ini Ibu Maemunah menyelenggarakan syukuran, yang lain tak dia rayakan, padahal sudah puluhan orang yang menyelesaikan studinya yang kontrak di rumahnya.    , 

                    Maemunah merasakan terjadinya pergolakan batin antara Razak dan Ashari. Keduanya merasa terjadi  keanehan di ibu Kostnya.

                “ Saya harap kamu berdua jangan heran dengan sikap Ibu ya. Saya hanya menjalankan takdir!”

                                                                                *****

                Tak satupun lembaga donor yang menjawab permohonan Ashari untuk mendapatkan dana agar bisa melanjutkan ke Pascsarjana. Dia menunggu sudah 8 bulan, belum ada tanda tanda sebagai sinyal untuk lanjut ke S2. Namun ronah mukanya tak terlihat kecemasan. Doa doa malam yang tak pernah dia abaikan. Sebab, dia percaya, Tuhan maha tahu isi hati hambanya yang menghadapi kesulitan.

                “ Coba kamu pasang Iklan di Lafal Wuna,  kamu butuh donatur untuk membiayai kuliahmu di S2. Jelaskan Unifersitas yang menjadi tujuanmu. Mungkin saja ada tergerak untuk membantumu, “ saran Maemunah.

                “ Ya Bu, saya akan coba, semoga berhasil “.

                Hari masih pagi sekiar jam 8, Hp AsharI bergetar,  ada SMS yang masuk  meminta nomor rekeningnya ,   untuk biaya kuliah di pascasarjana telah terbayarkan  2  semester. Antara percaya dan tidak. Dia bergegas ke bagian akademik untuk menanyakan kebenarannya, Jawaban dari staf adminsitrasi, telah terbayar untuk 2 semester.  Namun tak dijelaskan, siapa   yang  telah membayarkannya. Semua terjadi begitu mulus,disaat  pendaftaran akan ditutup, dan kuliah segera akan dimulai .     

                  Ashari kuliah dengan serius. Setiap awal bulan rekeningnya terisi. Dia tak tahu siapa donatur yang ihlas membantunya. Hanya butuh waktu 20 bulan, kuliahnya di pascsarajana selesai dengan nilai cumlaude . Prestasi yang layak untuk dibanggakan.

                Pihak Universitas memintanya untuk mengajar sebagai dosen Luar Biasa. Dia belum menjawab,  diluar dugaan ada calon Bupati yang meminangangya  menjadi wakilnya. Ashari kaget dan tak percaya. Ini seperti mimpi.

                “ Bagaimana pendapatmu. Saya dipinang menjadi calon Wakil Bupati. Saya tak punya modal, sebab untuk calon harus siap dana untuk membiayai kerja kerja politik,” tanya AsharI kepada Razak.

                “ Kesempatan tak datang dua kali. Jadi kamu harus mantapkan diri untuk menerimahnya. Saya yakin calon Bupati telah menyiapkan dana. Dia seorang pengusaha. Posisimu untuk melengkapi formasi, yaitu pengusaha dan akademis yang religius,”.

                “ Seandainya kami gagal terpilih ?”

                “ Kamu terimah tawaran mengajar di kampus, Takdirmu sebagai akademisi, bukan Wakil Bupati. Jadi gunakan peluang ini yang terbaik dan saya yakin teman teman di kampus akan mendukungmu dengan target untuk memenangkan pertarungan”.           

                                                                                *****

                Tak ada yang bisa melawan takdir Tuhan. Semua harus tunduk kepada kehendak yang maha Kuasa. Duet Sadly - Ashari memenangkan pertarungan dengan telak, yaitu 63,5 persen dari tiga pasang calon yang bertarung. Padahal, sebelumya tak masuk dalam radar untuk meraih pemenang, bahkan diklaim sebagai pasangan yang paling lemah.

                Wajah keduanya berseri seri.

                H. Firman puas, usahanya berhasil. Dia yang membujuk  Sadly   agar melamar Ashari dengan konpensasi 50 persen dana kampanye dia siapkan. Dia datang menyalami Ashari  lalu memeluk Ashari. Tangis tak bisa dibendung, saat H Firman memeluk Ashari.

           “ Ini adalah takdir. Saya tunaikan pula kewajibanku untuk membantumu menjadi wakil Bupati. Sadly  adalah keluarga dari isteriku lalu saya minta untuk melamarmu. Ada tugas penting yang kamu harus kerjakan bersamanyai. Tapi pikirkan untuk segera berumah tanggah. Jika sudah ada calonmu, jangan segan segan untuk beritahu saya. Saya akan tunaikan kewajibanku sebagai takdir yang harus saya laksanakan,”

         Air mata AsharI mengalir sehingga membasahi baju H. Firman. Keduanya larut dalam suasana keterhaharuan yang membahagiakan. Mereka berangkulan, lalu Ashari membisiknya, apakah biaya kontrakan rumah dan biaya studi di S 2. Dia juga yang menanggung ?. H. Firman  mengangguk, sebagai implementasi  menunaikan takdir.

        Rangkulan Ashari semakin erat. Semua pendukung ikut terharu, setelah Maemuna menjelaskan apa adanya, tentang Ashari dan H Firman,  yang berdiri disebelahnya.

        “ Saya hanya mentunaikan  takdir Tuhan, “.

        “ Ya, kita menjalani takdir , sebagai ritual dari makna  peribadatan yang tak bisa terhalangi oleh siapapun juga,”  Ashari menguatkan pernyataan H. Firman, dan rangkulan seakan sulit dilepaskan, demikian pula kristal bening dari mata mereka mengalir dengan derasnya. Begitu indahnya Tuhan mendesain yang terbaik untuk hambanya yang yakin akan kemahabesarannya.                    

                                                                                                         

               

Penulis : Tim LafalMuna.Com

Editor : Syahrial Ashaf

Tag : Cerpen