iklan hut ri ke 75 kelurahan wapunto

Lukisan Tak Berwujud

Cerpen. Muhammad Syahrial Ashaf

Lukisan Tak Berwujud
Ilustrasi
Perempuan itu datang secara tiba tiba, lalu marah marah yang tak jelas titik permasalahannya. Matanya melotot, napasnya seperti habis di buruh anjing gila. Emosinya tak terkontrol, bagai harimau yang melihat rusa betina. Inilah pengalaman pertama saya melihat perempuan  marah yang benar benar marah dengan kondisi puncak. Entah benar atau tidak, jika wanita mengamuk, spontan  kekuatannya melebihi dua kali kekuatan laki laki.  
 
 Saya tak mengerti penyebab  dia marah ,apalagi saya  tak mengenalnya. Saya berusaha mengolah pikirku, untuk merefleksi  apakah  pernah bertemu atau mengenalnya. Sampai pada titik batas kewarasanku, saya tak mampu menemukan benang merah siapa dia sebenarnya, tapi dia berani marah marah . Saya bukan manusia yang sementara bersalah sehingga layak untuk dimarahi. Saya manusia bebas, yang tak memiliki kenangan masa lalu untuk dimarahi. Hidupku sangat dinamis, namun terkontrol secera sempurna.
 
Dugaan sementara yang mampu saya maknai, boleh jadi  perempuan ini  salah alamat, sehingga dia menumpahkan kemarahannya padaku. Atau boleh jadi dia ingin mencari sensasi, sebab ketika ada media massa yang meliput, ratingnya akan naik.  
 
Saya menatap matanya. Dia balik menatapku dengan garang, seperti harimau melihat mangsanya.Sepintas dia bukanlah wanita, namun suara dan buah dadanya yang menonjol, menjadi petunjuk, dia seorang wanita.     
 
“ Mohon maaf anda siapa ya?”. Saya berusaha tenang dan bijak memahami kemarahannya.
“ Saya tak bernama!” Jawabnya lalu mengobrak abrik kursi di ruang tamuku.
“ Saya meminta kejelasan, anda siapa ya ?”
“ Jangan tanya siapa saya , tapi bertanya pada akal budimu, apa yang kamu kerjakan, itu hanya sia sia. Hentikan pekerjaaan konyol  itu, karena tak memberi pencerahan untuk batinmu. Kamu akan menjadi penghayal”.
“ Memangnya apa yang saya lakukan, dan apa hubungannya denganmu ?”
“  Anda telah membangun  mimpi yang sia sia”. Sorot matanya semakin tajam
Saya mundur beberapa langkah. Matanya sangat tajam. Dia melemparkan kaki meja kepadaku, tapi saya berhasil menangkapnya. Lalu matanya dia arahkan pada sketsa lukisan yang sementara saya buat. Sketsa itu hanyalah sepasang mata yang belum selesai.
“ Apakah itu mata wanita atau mata laki laki ?”
“ Ya, mata perempuan”. Jawabku spontan
“ Apakah itu imajinasi  atau fakta?”
Nalarku mulai bekerja, apakah karena sketsa lukisan mata, sehingga dia marah?. Lalu apa perlunya dia marah?.
 
“ Sepasang mata ini adalah fakta. Saya menganggapnya adalah mata yang paling indah yang pernah saya lihat. Saya ingin memilki mata dan wanita ini untuk masuk dalam kehidupanku. Saya terlanjur mencintainya . Seperti kisah Rasululah yang mencintai Aisyah yang selalu dipanggilnya dengan panggilan Chumirah, sehingga terkadang kusebut namanya sebagai zikirku, serta kutunaikan doa doa dalam setiap doa yang kupanjatkan untuknya  ”
 
“ Terlanjur mencintainya, apa ukurannya ?”
“ Saya tak memiliki kepercayaann diri tanpa bersamanya. Dia adalah malaikat keciliku, sekaligus nafasku .
Saya telah berhutang nyawa padanya, sehingga saya berusaha untuk memilikinya secara utuh.
Ini adalah obsesiku, semoga para malaikat dan para sufi serta orang orang shaleh mengamininya.   
Saya selalu membayangkan menatap senja bersamanya.
Lalu melafalkan doa doa keselamatan menjelang magrib.
Saya seakan hidup sebagai manusia baru yang paripurnah. Saya menikmati kebahagian bersamanya saat bulan mulai bersinar.
Karena hatiku untuknya dan saya pun berharap hatinya untukku sebagai pemilik tunggal  ”    
“ Apakah sudah dicoba, atau hanya membangun mimpi dengan melukis matanya di atas kanfas, kemudian berfantasi untuk memilikinya.
Itu kerja yang tak bermakna , seperti mengejar bayangan yang tak mungkin tergapai?”
“ Saya mengenalnya. Saya mengagumi matanya yang indah. Saya mengekspresikan matanya sebagai wujud cinta untuk memiliikinya seperti penyair yang mengirim puisi untuk wanita yang dikaguminya.”
 
Perempuan itu mundur beberapa langkah, seolah dia menyiapkan satu jurus pamungkas untuk menyerangku.
Dugaanku meleset, Dia duduk lalu memohon maaf padaku. Sebab dia menyangka saya telah mekakukan kerja yang sia sia,
“ Mengapa anda seperti itu ?.
Lalu kenapa mata anda tak lagi merah yang akan menerkamku.
Anda telah berubah, kini seperti bunga yang gugur, yang telah kehilangan kesaktian, mengapa begitu cepat, ada apa yang terjadi pada dirimu yang sebenarnya ?’.
“ Anda seorang pencinta sejati, yang mengagumi wanita sampai pada titik yang paling tinggi, seperti Rasululah sampai  ke sidratul muntaha  “ Pujinya.
“ Penilaian anda terlalu berlebihan. Sebab kita tak saling mengenal, tiba tiba anda melontarkan kalimat pujian kepadaku.  Seolah olah kita adalah sahabat yang memberi apresiasi sebagai bentuk kekaguman. Sebenarnya anda ini siapa ya “
 
“ Jangan tanya siapa saya. Saya mengenenalmu terlalu jauh, bahkan melebihi dari dirimu. Saya kagum padamu. “.
“ Wow, anda membangun lelucon ya. Kok anda mengaku mengenalku, sementara saya tak pernah mengenalmu.
Saya kerahkan semua sarafku untuk mengingat ingat siapa kamu yang sebenarnya.
Kesimpulanku, saya tak mengenalmu, lalu kini kamu mengaku mengenalku. Ini lelucon yang tak lucu.”      
“ Saya mengenalmu dari puisi puisimu, dari cerpen dan Nofel Nofel yang kamu nulis . Disitu tergambar sosokmu yang bening. Yang sangat menghargai wanita. Bagimu wanita adalah sosok yang sakral.  Saya kenal namamu, yaitu Aril Rafsanjani. Semua karyamu telah saya baca. Kesetianmu pada perempuan lewat karyamu menjadi obor pencerahan untuk sang perindu keabadian .sayapun tahu kamu adalah sosok yang sangat setia”.
 
“ Terima kasih atas apresiasinya. “ 
 “Saya ingin tanya siapa nama  mata wanita yang terlukis dalam sketsa tersebut ?”
“ Dia adalah kekasihku, dia sangat istimewa untuku. Tak bertemu dua hari, seperti menanti dua purnama yang lewat . Saya tak bisa pisah darinya. ”.
“ Anda belum menjawab pertanyaanku. Siapa nama wanita yang sengaja kamu buat sketsanya?”
“ Oh anda perlu nama ya. Namanya Riasyar” 
“  Nama yang indah, Apakah dia juga yakin, kamu adalah kekasihnya?”
 
“ Ya, dia juga yakin aku adalah kekasihnya.  Saya menjadi pemenang untuk memperebutkan pialah hatinya yang maha agung. Saya berhasil membangun oiptimisme untuk hidup bersamanya. Dia mengaku ,ada  sejumlah pria yang ingin mendekatinya. Namun pilihan hatinya dia labuhkan kepadaku sebagai dermaga yang tepat untuknya.  Kami telah berikrar untuk hidup bersama.  Sebab,  kami  telah meyakini diri kami masing masing untuk saling mencintai dan menyayangi. Saya menyayanginya . Seperti Ali Bin Abitalib yang menyayangi   fatimah Alzahra. Saya mencintainya seperti Muhammad yang mencintai Khadijah, lalu saya setia seperti Nabi Adam dan Siti Hawa yang berpisah lalu bertemu kembali di jabal rahmah. Inilah komitmen hati yang kami sepakati bersamanya.” 
“ Apakah anda serius dengan wanita yang menjadi obyek lukisanmu itu ? “
“ Itu sudah pasti. Saya serius, dia adalah pilihan ibuku. Saya tak mungkin melakukan perlawanan dengan pilihan ibuku. Saya yakin, dia adalah wanita yang terbaik untuku. Dan sayapun yakin, ibuku memilhnya dengan mata batin sebagai orang tua yang ingin putranya bahagia ” 
“ Dia pilihan Ibumu, apakah juga kamu cinta ?”
“ Saya mencintainya dan menyayanginya. Saat ibuku menyebut namanya  dua hari setelah  Idul Fitri , hatiku bergetar. Saya bertanya beberapa kali kepada ibuku tentang wanita itu, dan ibuku mengangguk, dia menyukai wanita itu. Lalu saya pun memanjatkan doa menyebut namanya, memohon restu dari sang pemilik jagat raya ini, jika memang dia jodohku, tolong restui  yA Allah. Saya mungkin bukanlah pria terbaik untuknya. Sebab saya yakin, ada beberapa pria yang berusaha mendekatinya, Tapi saya berusaha untuk menjadi yang terbaik. Saya yakinkan dirinya, bahwa saya tak mungkin membohonginya, serta dia tak akan menangis akibat prilakuku di luar   .”
Perempuan tak bernama itu hanya manggut manggut. Dia kedinginan, padahal cuaca sangat panas.   Dengan suara pelan seperti mendesah, dia katakan.“ Saya mengagumi  sikap anda. Sebab saya anti kebohongan. Saya tak mau dibohongi, makanya saya tak mau membohongi orang. Saya mencontoh sikapmu selama ini ”.
 Jeddah sejenak.
Apakah dia paranormal atau sufi yang tersesat,  dia mengaku mengenal lebih jauh, bahkan dia mengaku pengenalam diriku melebihi  dari diriku sendiri. Aneh ya, siapa sebenarnya perempuan ini yang tak lagi garang, matanya menampakan keteduhan. Dia memegang tanganku. Kulitnya sangat halus.
“ Seberapa besar kekuatan cintamu pada wanita yang menjadi obyek lukisanmu ?”   
“ Saya sangat cinta dan sayang padanya. Separuh jiwanya untukku, lalu separuh nafasku untuk dirinya. Ini membuktikan saya tak main main. Saya sangat serius . Saya membayangkan bersamanya  di surga  menikmati susu dan madu dan kami duduk diatas karpet permadani warnah merah buatan Turky dan kami dikelilingi para bidadari.  Inilah puncak puncak  kenikmatan yang kami selalu panjatkan dalam setiap doa doa yang kami ikrarkan”.  
“ Lalu kapan menyelesaikan sketsa tersebut  ?“
“ Itu adalah momen yang terpenting yang kini kutunggu. Saya akan menyelesaikan saat ijab kabul. Saya akan tulis diatas lukisan tersebut dengan kata kata yang sakral. AKU TERIMA NIKAHNYA RIASYAR DENGAN MAS KAWIN SEPERANGKAT ALAT SHALAT DIBAYAR TUNAI, KARENA ALLAH, SEMOGA TUHAN MERAHMATINYA.”
Perempuan tak bernama itu lalu berdiri dan menyalamiku. Dia mengucapkan kata kata yang sulit kumengerti, lalu menghilang. Ternyata dia adalah Jibril.                                              

Penulis : Syahrial Ashaf

Editor : Syahrial Ashaf

Tag : Cerpen