iklan hut ri ke 75 kelurahan wapunto

Hasid Pidansa Meredam Langkah Rusman Emba

Hasid  Pidansa  Meredam Langkah Rusman Emba
Syahrifuddin Udu dan Hasid Pedansa

LAFALMUNA.COM, RAHA --- Langkah taktis dan strategis serta politik dimainkan  kubu SU ketika melamar Hasid Pidansa untuk berpasangan di Pilkada Muna. Sebab mereka ketahui, PDIP hanya akan mengusung kader internal. Pola ini menjadi kekuatan yang sulit terbendung sebagai harga diri partai, sehingga kubu SU mencari langkah yang brilian untuk melamar kader partai yang sudah teruji, dan terpuji , yaitu 3 periode menjadi anggota DPRD Sultra mewakili PDIP.

“ Saya memaknai pola yang dimainkan kubu SU sangat cerdas disaat melamar Hasid Pidansa. Dengan mengusung nama Hasid, disitu ada posisi tawar yang sangat tinggi. Sebab Hasid, bukan kader PDIP  kemarin sore, tapi kader yang telah teruji. Buktinya tiga periode menjadi anggota DPRD Sultra, lalu bandingkan dengan Rusman, kapan dia menjadi kader PDIP. Sehingga dapat simpulkan, pemunculan nama Hasid untuk meredam langkah RE, “ Ujar Drs. H. Muhammad Syahrial Ashaf,  aktifis  pergerakan Mahasiwa di Makasar era 80-an.

 

BACA JUGA : SU Tampil di Pilkada Muna Sebagai Pemenang

 

Mantan Ketua  Umum Badan Perwakilan Mahasiswa ( BPM) Fisipol UVRI Makasaar ini menambahkan, nama Hasid dimunculkan untuk berpasangan dengan SU sebagai pilihan  yang paling tepat untuk mengeliminasi pengakuan RE sebagai kader, dan ketua Bappilu PDIP Sultra yang tak punya saingan, sehingga mutlak diusung PDIP. Sebab, RE hanya menghitung Rajiun yang bukan  kader PDIP, tetapi ketika nama Hasid dimunculkan, gugurlah klaim kebanggaan RE.
“ Rusman tak pernah menghitung atau menduga nama Hasid dimunculkan untuk mendapatkan tiket dari PDIP. Disini terlihat kemampuan SU tak bisa dilihat remeh temeh. Artinya,  SU taat atas keinginan PDIP hanya akan mengusung kader internal, sehingga dia melamar Hasid.  Nalar SU sangat brilian dan memang layak untuk memimpin Muna, “ Ungkap Syahrial .


Penulis buku Ekspresi Demokrasi Dalam  kebudayaan ini menambahkan, nama Hasid Pidansa di internal DPP PDIP sangat familiar, sehingga tiket untuk mendapatkan PDIP akan lebih mudah, ketimbang yang baru menjadi kader. “ Saya yakin, Megawati dan Hasto, serta Puang Maharani  sudah lama mengenal Hasid, sehingga tak terlalu sulit untuk menerbitkan rekomendasi. Apalagi Megawati tahu, Hasid adalah adik kandung Rifai Pidansa, mantan ketua umum DPP PDIP Sultra.” Terang Syahrial.


Alumni Diklat Jurnalistik  Tingkat Nasional tahun 1989 di Bandung, Jawa Barat ini mengaku telah mengenal Hasid sejak tahun 1995, disaat Hasid menjabat Kadis LLAJR di Muna, Jadi Hasid sangat paripurnah, Dia mantan birokrokrasi lalu menjadi politisi PDIP, yang dibuktikan  3 periode menjadi anggota DPRD Sultra. “ Secara emosional, nama Hasid  bukanlah orang asing untuk saya. Kami sering diskusi. Dia sangat cerdas, apalagi bicara pertumbuhan ekonomi. Akhir akhir ini saya jarang ketemu dia, terakhir saya ketemu saat satu meja  makan bersamanya serta  dengan Rusda Mahmud serta Rifai Pidansa di Mess Kolaka Utara di Jakarta disaat Sidang MK yang mengantar RE menjadi Bupati Muna” Ungkap Syahrial yang juga penulis nofel Kabut Kecemasan dengan tema cerita tentang Pilkada.      
Sementara itu Hasan Jufri, mantan ketua HMI  Cabang Raha  menambahkan, setelah SU- Hasid mendapatkan rekomendasi dari Hanura, PDIP dan PPP akan menyusul partai partai lainnnya, misalnya Golkar. Sebab saat ini Golkar hanya menerbitkan surat tugas untuk RE, belum rekomendasi, jadi masih terbuka celah untuk mendapatkan Golkar, karena SU juga mendaftar di Golkar.


“Penjelasan Hery Asiku, ketua DPD Golkar Sultra, bahwa untuk Muna sebatas  surat tugas untuk Rusman. Makna ini kami tafsirkan, pintu Golkar masih berpeluang ke lain hati, sehingga pernyatan Rusman, dia satu satunya yang telah mendapatkan tiket untuk bertarung di Pilkada  Muna karena diusung Golkar dan PKS menjadi terbantahkan dengan pernyataan Hery Asiku tersebut, “ Ujar Hasan Jufri, S. Hut

 

Penulis : Imran Waru

Editor : Syahrial Ashaf

Tag : Pilkada Muna 2020