iklan hut ri ke 75 kelurahan wapunto

CAHAYA DIUJUNG WAKTU

Cerpen. Muhammad Syahrial Ashaf

CAHAYA  DIUJUNG  WAKTU
Ilsutrasi
Dua tahun bukanlah waktu yang pendek untuk  mencari identitas sekaligus membuka peluang untuk mendapatkan uang. Saya bekerja serabutan, hanya sekedar mendapatkan nasi bungkus, rokok dan kopi untuk sehari. Itupun kadang tak menentu. Saya gelisah, waktu terus bergulir, sementara  tak ada kepastian besok apa yang saya akan makan.
Perjalanan nasibku tak seindah teman temanku waktu kecil , rata rata telah menjadi orang sukses  dan pantas untuk dibanggakan. Pakaian dan sepatu yang mereka kenakan, menjadi bukti, bahwa nasib mereka cemerlang. Saya menganggap diriku menjadi kecil, tak ada gunanya hidup ini. Kekalahan dan kesialan menjadi milik kami orang orang yang tak beruntung.  Namun saya seperti terhipnotis diingatkan untuk sesuatu yang gaib. Sesuatu yang kemungkinan akan kuraih untuk merubah hidupku . Ada gugusan bintang gemintang yang terbentang di hadapanku, posisi bintang menggangtung dan berharap agar saya miliki bintang itu. Saya meliriknya, takut takut kalau ada orang yang lihat usahaku meraih bintang itu. Saya hanya berhasill meraih satu bintang, dan itu sudah cukup bagiku.     
  Waktu terus berlari, telah berapa purnama yang lewat. Posisiku belum bergerak.Bahkan mungkin surut kebelakang. Keinginan untuk merubah nasib terus memompaku untuk semangat.Saya harus melatih diri untuk menjadi orang yang bisa bersabar. Yang kukejar adalah bayang bayang, yang kemudian menjadi cahaya, lalu dari cahaya itu akan merubah menjadi makna makna keabadian hidup yang harus kuyakini, inilah takdir Tuhan untukku yang terbaik.
 Saya tak pernah bayangkan, ketika pertama kali menjadi buruh di pelabuhan Raha. Setiap kapal yang berlabuh di dermaga Raha. Apakah itu kapal yang memuat penumpang atau hanya memuat barang, kami sesama buruh saling berlomba untuk mendapatkan barang yang bisa diangkut. Hukum rimba yang menjadi panglima, tak ada saling tolong menolong, sebab yang dikejar untuk mengisi perut.Kami sama sama susah dan lapar, itu yang menjadi pikiran sesama buruh pelabuhan, sehingga saling tindis dianggap hal yang wajar saja. 
Suatu saat terjadi kejadian, dan itu tak pernah kubayangkan.Temanku waktu sekolah di SMP memangilku untuk mengangkat barangnya. Saat barang itu akan kupikul, tiba tiba datang buruh yang lain, namanya Kambulete. Dia melarangku memikul barang itu. Alasannya sejak tadi dia yang menunggu di barang itu dan belum ketemu pemiliki barang.” Jangan coba coba kamu pikul barang itu, kau tahu sendiri akibatnya jika kamu berani memikulnya!, “ Ancam Kambulete padaku. Saya hanya  senyum, sebab dari postur tubuh, tak seimbang kalau saya berkelahi, saya pasti menang.
Randi sebagai pemilik barang ikut bersuara. Barang ini adalah miliknya, dia bebas menentukan siapa yang akan memikulnya. Kalau ada orang lain yang memikul barang tersebut, dia tak akan bayar sewanya. “ Saya tak mau diintimidasi ya. Saya yang berhak menentukan buruh siapa yang memikul barangku. Jangan coba coba memikul barangku, jika saya tak perintahkan, saya akan berteriak dan menudingnya sebagai pencuri.” Ujar Randi seraya menyuruhku untuk mengangkut tiga tasnya. Spontan  Kambulete mundur, namun diluar dugaanku dia melayangkan tendangan, dan tepat mengenai ulu hatiku. Spontan saya tersungkur. Namun belum sempat saya bangkit, tangan kanannya kembali menerjangku dengan satu pukulan yang tepat mengenai rahangku.Dan itu terus berulang dia lakukan hingga saya kembali tersungkur.Mataku gelap.
Lima belas menit kemudian, saya berhasil mengusai perasaanku. Saya lihat Kambulete masih berada di tempatnya. Energiku lansung bangkit, saya hajar habis habisan. Pukulan yang disusul tendangan saling  bergantian menyerang Kambulete, dia tak bisa mengelak.Hidungnya mengeluarkan darah segar, mukanya sulit dikenal lagi, bengkak.  Dia tersungkur sambil mengerang kesakitan. Tak ada yang berani melarai perkelahian ini . Saya semakin kalap, sehingga saya bopong Kambulete yang selanjutnya saya buang di laut. 
 Mata masyarakat  yang berada di kawasan  pelabuhan Raha lansung tertuju ke laut , melihat Kambulete yang berusaha untuk menyelamatkan diri .Kemudian  saya tinggalkan pelabuhan Raha dengan perasaan tenang,   menunggu Polisi akan menjemputku sebagai konsekwensi mempertahankan harga diri sebagai laki laki.
 Kambulete telah mulai memukulku, jika saya tak melawan, maka besok akan ada lagi buruh pelabuhan lainnya yang akan menghajarku. Saya menghabisinya, agar lahir efek  takut dari sesama buruh di  pelabuhan Raha jika ada yang berani memukulku. Sebab hukum rimba dan watak khas buruh pelabuhan cenderung keras, itulah yang saya lawan. Saya tak mau menjadi mainan atau kuda pacuan di pelabuhan Raha. 
Dugaanku tepat, satu jam kemudian Polisi menjemputku. Saya digiring ke kantor Polisi. Betapa kagetku, keluarga Kambulete tumpah ruah di halaman kantor Polres. Mereka menatapku dengan sinis,  sementara saya datang seorang diri  saja. Tentu dalam bayangan mereka saat melihatku, itulah manusia  yang berhati iblis.
Kasat Reskrim bersikap bijaksana, dia mencari jalan tengah untuk mendamaikan, karena menurutnya, ini hanya hanya kesalahan kecil yang buntutnya terjadi  kesalahpahaman saja. Namun untuk adilnya, AKP Nofianti  minta Kambulete atau yang mewakilinya untuk menjelaskan krononologisnya sehingga terjadi perkelahian tersebut.
Kambulete tak berani menatapku, dia berusaha  selalu mengelak ketika kuperhatikan. Sorot matanya layu. Dia tak membayangkan saya membuangnya ke laut. Selama ini sesama buruh pelabuhan takut kepadanya.Kini reputasinya saya tenggelamkan didasar laut. Kesombongan dan sesumbar sebagai orang kuat dan punya ilmu hitam, saya jungkirbalikan,  saya berhasil mengkanfaskannya tanpaa perlawanan.
“ Saya minta pihak Kambulete untuk mengemukakan titik persoalan hingga terjadi perkelahian” ujar AKP Nofianti.
Kambulete tak bersuara, dia minta pamannya yang kebetulan sebagai pengacara untuk mewakilinya. “ Izin  Komandan.” Ujar Saiful, “  Yang saya dengar dari penjelasan Kambulete, posisi Hamid merebut barang yang telah dikuasai Kambulete. Lalu terjadi tarik menarik, yang selanjutnya Hamid memukul Kambulete yang kemudian  membuangnya ke  laut”.
“ Bagaimana  dengan penjelasan Saiful, apakah Hamid keberatan?” Tanya AKP Nofianti.
Belum sempat saya menjawab. Randi unjuk tangan minta izin untuk bicara sekaligus memperlihatkan bukti yang akurat. Kulihat Kambulete dan keluarganya lansung loyo, hilang semangat dan kepercayaan diri  setelah melihat rekaman vidoe yang diperlihatkan Randi.
Diluar dugaan, Saiful lansung berteriak.” Saya tak menyangkah  dibohongi oleh kemenakanku. Dia bukan saja membohongiku, tapi juga keluarga besarku. Saya minta Polisi segera tahan Kambulete. Dan atas nama keluarga besar, saya mohon maaf kepada Hamid”.
Momentum ini saya gunakan mencari simpati publik. Sekaligus saya ingin tegaskan, saya bukanlah orang jahat.
“ Mohon izin Komandan. Saya tak membantah apa yang dikatakan Saiful, yang tentu saja sumber informasinya dari Kambulete. Berkat rekaman video yang diperlihatkan oleh penumpang tersebut, semua menjadi jelas. Saya tak sejahat seperti  yang dibayangkan Saiful, karena saya membuang ke laut Kambulate. Untuk hal tersebut, dengan hati yang ihlas, saya maafkan Kambulete. Dan sekaligus saya mundur sebagai buruh pelabuhan, dan saya akan mencari rejeki di tempat lain”.
Saiful berdiri lansung menyalami dan memelukku. Yang selanjutnya dia mengatakan“ Anda  seorang ksatria sejati”. Saya tersenyum dan spontan  membalasnya pula, “ Anda lebih dari seorang ksatria”.                                   
              ***
Saling berganti pekerjaan kulakoni setelah mundur dari buru pelabuhan. Saya sempat menjadi penarik becak, itupun hanya sebulan. Lalu berganti menjadi buruh bangunan. Disini agak enak, sebab kami tinggal dibarak selama 3 bulan, sehingga soal makan tak lagi kupikirkan, demikian pula kopi, karena kontraktor yang mengerjakan proyek sekolah yang kami kerjakan, dia memberi kami makan dan kopi secara gratis.
Hari berganti hari, masa kontrak sebagai buru bangunan telah berakhir yang selanjutnya  kembali ke rumah kontrakanku. Hidup semakin susah, karena pekerjaan tak ada. Tiba  tiba datang Farhat, temanku saat di SMA. Dia minta agar saya menuliskan puisi untuk anaknya .” Tolonglah  Hamid, buatkan puisi untuk anakku. Saya sudah keliling semua teman tak ada yang bisa, sementara tugas pembuatan puisi itu akan dikumpul besok”.
Saya menanggapi aneh permintaan Farhat. Saya hanya seorang buruh bangunan, kok disuruh membuat puisi. “ Apa tak salah minta saya menulis puisi?, kenapa tak minta Syamsuria, dia guru bahasa Indonesia yang juga Alumni IKIP”.
“ Pokoknya saya memintamu untuk buat puisi. Saya masih ingat kamu nulis puisi untuk gombal Niar saat di SMA, dan saya sempat baca puisi itu, puisi itu bagus. Jadi tolong kemenakanmu ya”. Farhat pamit, dan sempat kulihat dia menitip amplop dibalik taplak meja.
Dapurku kembali mengepul, sebab uang yang diberikan Farhat cukup besar menurut ukuranku.Saya bergegas ke pasar untuk membeli kebutuhan yang  paling pokok, yaitu beras, telur dan mie instant serta gula dan kopi yang tak boleh terlupakan. Menulis puisi lalu dapat uang, ini mungkin sebagai momen untuk merubah garis hidup dari kerja otot menjadi kerta otak.
“ Puisi yang kamu tulis, dinilai baik.Namun mereka tak tahu kamu yang tulis, mereka tahunya anakku yang punya karya. Gimana apakah kamu mau  kerja profesional menulis puisi ?. Kirimkan puisimu ke koran koran. Untuk mengetiknya, kamu gunakan komputer anaku, waktunya dari jam 8 sampai jam 1 siang. Saya yakin kamu bisa bekerja profesional untuk nulis puisi” Saran Farhat.    
Saran Farhat kuyakini sebagai titian untuk merubah hidupku. Beberapa puisiku terbit di koran koran, honorpun sudah kudapat sebagai kerja kerasku mengolah otak. Dan tanpa setahuku, Farhat mengumpulkan sejumlah puisiku yang pernah terbit di koran, lalu disatukan menjadi satu buku. Saya kaget, buku itu dia serahkan bertepatan hari lahirku. Diapun merancang penjualannya dari sekolah ke sekolah, kepada Sekolah yang Kepseknya dia kenal.
Namaku semakin dikenal di sejumlah siswa yang membaca buku kumpulan puisi tersebut. Anehnya, ada saja yang usil, mereka tak percaya saya yang menciptakan puisi puisi itu. Namun saya tak tanggapi, saya biarkan mereka berkumur yang tak jelas, toh koran tetap menerbitkan puisiku, sebab hampir setiap minggu selalu ada koran yang menerbitkan puisiku. Sebab saya mengirim puisi sekitar 15 koran di sejumlah koran lokal dan nasional.     
Setelah tiga bulan memasarkan buku kumpulan puisiku, Farhat datang ke rumahku. Dia beberkan hasil penjualan selama 3 bulan. Dari 1000 eksemplar yang tercetak, semuanya laku terjual, dengan harga RP 50 Juta. “ Saya tak mengambil untung dari penjualan buku kumpulasan puisimu, saya hanya minta pergantian uang cetak saja, yaitu Rp 15 juta, sementara Rp 35 juta itu menjadi hakmu,” ujar Farhat seraya menggodaku, jika sudah memungkinkan dan ada wanita yang cocok segerami menikah, agar tenang untuk berkarya.      
“ Saya hargai kerjamu menerbitkan buku kumpulan puisiku,namun saya menolak mengambil uang Rp 35 juta itu. Saya hanya mau ambil Rp 15 juta saja. Kamulah yang kerja keras. Saya sudah mendapat honor dari koran, jadi uang Rp 35 juta untukmu Farhat, jika kamu tak mau terimah, putus hubungan persahabatan kita”.
“ Eh jangan gitu Hamid. Kamulah yang berhak sebagai bukti kerja otakmu, bukan lagi kerja ototmu. Saya minta terimalah uang Rp 35 juta itu”.
“ Kalau gitu kita cari jalan yang terbaik, yaitu dari uang Rp 50 juta itu.Masing masing kita ambil Rp 25 juta. Saya pikir ini pikiran yang realistis” saranku dan akhirnya Farhat menyetujui pembagian itu. 
Farhat memintaku agar  menulis cerpen, sebab cerpen banyak peminatnya, bukan saja pelajar, tapi juga ibu ibu rumah tangga. Sayapun berani mengirim naskah cerpen ke koran koran. Mulanya saya khawatir, sebab telah beberapa cerpen yang kukirim, tak ada satupun koran yang menerbitkannya. “ Jangan patah semangat, teruslah menulis. Suatu saat cerpenmu akan terbit di koran, itu keyakinanku. Saya membaca naskah yang kamu kirim, rata rata bagus. Jadi tinggal menghitung hari,kamu akan menjadi sastrawan yang diperhitungkan, dan karyamu akan dibahas dalam pertemua para sastrawan. Sebab esok akan cerah, seperti salah satu syair puisimu”. Farhat memberi semangat padaku.
Ingatanku tertuju pada sejumlah nama sastrawan di Indonesia, yang namanya kerap muncul di media massa. Karya yang mereka tulis mampu membangkitkan lahirnya perubahan baru. Nama nama seperti Hamsad Rangkuti, Agus Noor, Satmoko Budi Santoso, Joni Ardianata, Teguh Winarsho dan sejumlah nama lainnya. Merekapun pada awalnya lahir dari suasana yang tak menentu, kini mereka telah suskes sebagai sastrawan yang punya nama. “ Saya pun ingin seperti mereka” batinku.
Ya, saya ingin menjadi sastrawan besar yang kelak akan meraih hadiah nobel dalam bidang sastra. Saya ingin buktikan, saya pun bisa bekerja tak hanya bertumpu pada kekuatan otot, tapi juga sukses lewat mengandalkan otak. Saya ingin buktikan, ya sekali lagi saya ingin membuat teman temanku kagum padaku. Saat ini sejumlah temanku yang tinggal di luar daerah, mulai menelponku setelah mereka membaca koran dan buku buku yang memuat karyaku. Ada yang percaya, tapi ada juga yang meragukan itu karyaku. Saya tak meresponnya dengan perinsip anjing menggongong kafilah terus berjalan. Saya terus berkarya dan terus berkarya.  
Matahari bergerak ke Barat, sebentar lagi suara azan akan berkumandang. Mobil Terano warnah putih berhenti di depan rumahku, lalu turun seorang laki laki yang kemudian kuketahui adalah Saiful, paman Kambulete. Ada maksud  apa dia ke rumahku,? apakah dia ingin melanjutkan persoalan lalu?. Saya harus bijak menemuinya. Saya memperlakukannya  sebagai tamu  tamu  yang lainnya. Dengan langkah tegas dia memasui halaman rumahku, dan ditangannya ada beberapa koran yang dia pegang.
“ Asalamualaikum, saya datang bertamu di rumah sastarawan yang bisa melahirkan karya yang akan mewujudkan peradaban baru” ujarnya saat memasuki rumahku, lalu dia memelukku.. “ Lihatlah koran koran yang saya pegang ini, semuanya menerbitka cerpen cerpen yang kamu tulis, rata rata membangkitkan semangat nasionalisme. Anda seorang patriot sejati dan juga ksatria” Ujar Saiful dengan semangat.    
Saya hanya tersenyum, sekaligus  mengagumi cara dia berbicara. Dia seorang orator yang baik. Dia tak memberi ruang padaku untuk berbicara, dengan mimik yang serius dengan retorika yang menarik dia melanjutkan pernyataannya. “ Saya datang kesini tak lama, karena waktu shalat magrib akan tiba, saya hanya ingin memperlihatkan sesuatu barang padamu, semoga barang ini punya makna untukmu”.
Saya enggan untuk bertanya barang apa yang  dia akan berikan padaku. Dia membuka tasnya, lalu dia menyerahkan bungkusan yang selanjutnya memintaku untuk membuka bungkusan itu. Hatiku berdebar, ternyata 5 eksemplar buku kumpulan cerpenku yang berjudul  Cahaya Diujung Waktu.
“ Buku tersebut saya cetak 3000 eksemplar. Kemarin saya serahkan di Kantor Dinas Pendidikan untuk dibagi bagi ke sejumlah sekolah secara gratis. Ini wujud apresiasi saya padamu. Kamu akan menjadi inspirator orang orang lain. Selamat berkarya!. Karyamu telah menjadi isnpirator banyak pihak, karena seting cerita yang kamu tulis sangat dekat dengan orang kecil, teruslah berkarya, sekali lagi teruslah berkarya!”.Ujar Saiful dengan semangat dan menyelipkan selembar cek yang nilainya Rp 100 juta.  
MUHAMMAD  SYAHRIAL  ASHAF, tinggal di Raha, Sulawesi Tenggara telah menerbitkan 4 buku kumpulan cerpen . Yaitu Khotbah di bibir jalan ( 2005) Sepatuh menginjak bibir dan telingah ( 2006), Sebilah Badik Disayap Jibril( 2007) serta Pria Tua di lorong senja ( 2008),lalu Tahun 2018 menerbitkan nofel yang berjudul KABUT KECEMASAN, kini sementara merampungkan penulisan nofelnya dengan judul  Menyambut Cahaya.
 

Penulis : Syahrial Ashaf

Editor : Syahrial Ashaf

Tag : Cerpen