iklan hut ri ke 75 kelurahan wapunto

Kemuliaan cahaya hati

Kemuliaan cahaya hati
ilustrasi

Banyak cara menuju Mekkah untuk menyaksikan jejak jejak  kerasulan Nabi Muhammad, demikan pula banyak cara yang ditempuh  pemuda untuk menarik simpati gadis pujaannya, semua halal dilakukan, asal dilaksanakan dengan cara yang santun dan beradab. Misalnya mengirim puisi atau lagu sesuai kesenangan wanita yang menjadi tujuan.

Sementara Aku  memilih cara lain, lebih senang menggunakan kalimat kalimat bersayap, simbol simbol yang tentu saja beradab. Saya menghargai wanita, sehingga kalimat kalimat yang kugunakan sangat santun, tidak norak apalagi memaksakan kehendak. Bagiku,   wanita adalah  lambang kemulian, sehingga harus didekati pula dengan cara cara yang sangat mulia.

“ Apakah kursi terindah di rumah sudah ada yang miliki ?”

Pertanyaan ini kutanyakan  pada Mirna. Cara yang saya lakukan ini sangat santun, yang kebetulan dia berada disampingku.Saya menaruh harapan padanya agar dia menjadi pendampingku  untuk dunia ahirat. Saya terlanjur menyenanginya. Sehingga pertanyaaan ini tidak tiba tiba lahir seperti letupan bom, tetapi tercipta dari pergulatan panjang untuk berani dan bersedia menerimah dirinya.Sebab, saya menyimpan rindu yang belum terjawab. Saya ingin memilikinya secara utuh.   

Namun , Mirna tak mengerti  pertanyaanku. Sebab topik pembicaraan yang sedang kami bahas adalah  mata kuliah sistim politik Indonesia. Kok tiba tiba bicara tentang kursi. Kulihat Mirna menarik napas, sebagi isyarat dia bingung dengan pertanyanku. Saya tak menegurnya, membiarkan dia berimajinasi atau boleh jadi dia berfantasi tentang kursi yang tiba tiba kutanyakan.

Saya ingin menjadi laki laki beradat sekeligus beradab saat mengungkapkan perasaan terhadap wanita. Saya tak mau dianggap serampangan, sebab wanita memiliki ketinggian keluhuran budinya, sehingga tata krama dan adat harus menjadi penjelas dengan siapa kita melabuhkan jangkar hati kita. Itulah saya memilih kalimat bersayap. Namun pada akhirnya, saya sudah menduga Mirna tak akan mengerti dengan kata kursi yang kumaksud.    

“ Apa maksudnya dengan kursi ?” Suara Mirna gugup,namun dia berani bertanya.Tentu saja dia tak paham makna kursi yang kumaksud. Matanya bermain main diwajahku, seperti kulihat surga yang akan dipersembahkan untuku. Mata Mirna memang indah, sehingga terkadang saya mencuri curi untuk memandangnya lalu  berlagak cuek.  Spontan dia tertunduk, saat mataku berpapasan  dengan matanya. Selain itu dia modis,  paham kontruksi berpakaian. Keserasian  sangat diutamakan, sehingga terlihat mempesona.Saya berusaha sangat bijak mendekatinya. Sebab, dia wanita yang cerdas. Buku buku yang dibacanya sangat berat, misalnya Gelombang ketiga karya Alvin Tofler. Dia sosok wanita idamanku, yang kelak menjadi bidadariku di surga, yang  menyiapkan madu  dan susu lalu kuminum bersamanya diatas karpet  permadani Turki. 

Sehingga wajarlah jika sosok Mirna selalu dihubung hubungkan dengan diriku. Teman teman di lembaga kemahasiswaan, bisik bisik selalu mengatakan, antara Aril dan Mirna terjadi hubungan yang istimewa, bukan pertemanan biasa. Bahkan ada yang berani terang terangan bertanya kepadaku, dimana keberadaan  Mirna jika saya hadir di kantor Senat,jika mereka tak melihat Mirna. Sebaliknya merekapun akan bertanya yang sama kepada Mirna, jika saya tak hadir di kantor Senat.

“ Kok jalan sendirian. Kemana Aril ?“,  Ria mengajukan pertanyaan dengan nada yang centil

“ Saya tak melihatnya, memangnya ada apa ya ?” jawab Mirna dengan polos

“ Teman teman bertanya  dimana Aril. Dan yang paling tahu keberadaannya pasti  Mirna, sehingga  kami tanyakan Aril kepadamu” Sambung  Ika sambil mengerdipkan matanya ke Ria.

“ Kalau kemarin, kami seharian ngobrol di kantor Senat, tapi hari ini, saya belum melihatnya, mungkin sebentar dia datang”.

“ Mantap ya, seharian ngobrol dengan Aril, pasti temanya menarik. Maklum Aril seorang penulis, lagi pula pasti tak kenal lelah.Hmmm Maklum ya, gitulah seperti yang lagi ramai diperbincangkan”. Ria mulai mengerjain Mirna.

“ Ah biasa saja ngomong dengan Aril. Memang sih banyak topik topik menarik yang dia bahas. Dia profil yang enak untuk diajak diskusi” Mirna menjawab santai        

“  Ya, tentu saja enak ngobrol dengan Aril. Maklum hati lagi berbunga bunga.  Apakah ada pesan, dia akan datang terlambat ?” selidik Ika.

“ Astagafirulah, aku lupa. Kemarin dia katakan, hari ini  akan mengikuti diskusi buku Bung Karno di Unhas, bahkan dia sebagai penanggap utama.

“ Hmmmm, benarkan dugaan kami. Jika ingin tahu  kebaradaan Aril, tanyalah ke Mirna. Buktinya, kami tak ada yang tahu, hari ini Aril akan mengikuti diskusi buku, hanya Mirna yang tahu. Itu pertanda ada sesuatu diantara kalian berdua”. Goda Ika dan Ria bersamaan

Mirna hanya tersenyum

*****

  Jam baru menunjukan pukuk 8.00 pagi, suasana kampus UVRI masih lengang. Hanya beberapa kelas mulai perkuliahan. Selebihnya masih kosong.Saya dan Ahmad Yani datang bersamaan, berjalan beriringan di koridor kampus menuju kantor Senat.

“ Seru ya acara beda Bung Karno  kemarin.?” Tanya Yani sambil terus berjalan.

“ Ya, khususnya saat saya mengungkap,isteri Bung Karno yang pertama bukan Ibu Inggit, tapi Oetari, putri Cokroaminoto”.

“ Itu juga yang mau  saya tanyakan, sebab setahu saya, isteri Bung Karno yang pertama adalah ibu inggit. Apakah ada bukti refrensinya yang menjadi pijakan?” Selidik Yani. Menurut Yani, perdebatan ini dia ketahui setelah membaca koran lokal pagi ini. Karena saya bersikukuh, bahwa isteri Bung Karno yang pertama adalah oetari. 

“ Kamarin saya tak bisa memperlihatkan buku  refrensi sebagai data penunjang saat diskusi berlansung. Saya hanya menyebut judul  buku, yaitu Bung Karno Putra Fajar. Namun peserta diskusi tak mempercayainya, sebab mereka sangat yakin inggitlah istri Bung Karno yang pertama, bahkan pembicara utama menjungkirbalikan pernyataanku ”. 

“ Apakah anda Kecewa ?” Yani berhenti berjalan sejenak 

“ Justru saya tertantang untuk membuktikan kebenaran pernyataanku. Ini saya lakukan sebagai bukti pertangungjawaban  moral secara  akademis ,bahwa apa yang saya katakan, adalah benar adanya, bukan imajinasi.”

“ Lalu apa yang anda lakukan?”

“ Saya ke perpustakaan Wilayah untuk mencari buku Bung Karno Putra Fajar, Namun buku itu masih dipinjam. Buku itu hanya satu eksemplar menurut penjelasan staf perpustakaan. Saya tanya siapa yang pinjam. Tapi staf perpustakaan tak mau menjelaskan identitas peminjam buku itu. Saya lansung meluncur ke Jalan Sungai Cerekang, disitu ada kios yang menjual buku buku loakan, juga tak ketemu. Alasannya,  stoknya lagi kosong. Beberapa hari ini banyak yang mencari buku buku tentang Bung Karno, sehingga buku buku Bung Karno sangat laris. Anehnya saya tak kecewa, kelenjar adrenalinku semakin memacu untuk mendapatkan buku itu ,  saya yakin dengan kebenaran pernyataanku ”.

“ Seberapa besar keyakinanmu untuk mendapatkan buku itu?. Maaf ya Aril, saya mau tanya, tapi jangan marah ya. Apakah benar di judul buku itu menjelaskan bahwa isteri pertama Bung Karno adalah oetari, bukan inggit. Sebab sayapun tahu, isteri Bung Karno yang pertama adalah Inggit Ganarsih. Saya baru tahu nama oetari, setelah membaca koran hari ini dan yang menyebut adalah Aril”.          

   “ Kebenaran harus menjadi pemenang, buktinya buku itu saya berhasil dapatkan di perpustakaan Masjid Raya.  Penemuan buku tersebut sangat fantastis, disaaat ada donatur yang mengantarkan buku untuk perpustakaan Masjid. Saya amati judul judulnya setiap dos yang dibuka untuk dicatat, sampai pada dos ke 8  . Saya mulai  bosan melihat buku buku itu, karena didominasi buku buku agama. Namun pada dos ke 10, bagai suara malaikat, disaat pencatat menyebut judul Bung Karno Putra Fajar. Saya seperti mimpi, apakah ini kenyataan  atau halunisasi. Saya mendekat kepada pencatat untuk melihat buku tersebut. Diapun memberikan saat saya minta izin untuk foto copy”.                            

“ Pasti anda puas ya ?”.

“ ya, saya sangat puas. Keyakinan dan kebenaran yang saya ungkapkan benar terbukti. Apa yang saya katakan, bukan imajiner tetapi realitas yang tak bisa terbantahkan.  Saking semangatnya, saya foto copi dua eksemplar. Lalu satu eksemplar saya antarkan ke pembicara utama yang telah membumi hanguskan pernyataanku. Saat saya serahkan, saya telah stabilo kuning penjelasan nama Oetari sebagai isteri pertama Bung Karno”.

“ Apa sikapnya setelah membaca buku itu ?”

“ Gesturnya terlihat seperti ayam yang kalah bertarung. Dengan suara gugup dan terbata bata, dia mengucapkan terima kasih, saya telah  memperkaya data  tentang Bung Karno. Dan dia berjanji akan melakukan konfrensi pers tentang kebenaran yang saya ungkapkan. Namun saya melarangnya, biarlah waktu yang akan menjawabnya. Karena kebenaran ilmiah pasti akan abadi, tak ada yang bisa menghancurleburkan”.

Yani termanggu manggu mendengar penjelasanku. Dia pahami saya takmain main . Yani menyerahkan koran Pedoman Rakyat  padaku.   “ Hari ini terbit artikelmu  tentang gerakan kemahasiswaan. Saya mau tanya, apa  yang Aril mau tegaskan,  bahwa setiap gerakan mahasiswa harus memiliki keberanian politik, agar gerakan itu punya roh, bukan seperti  air di daun talas”.

Belum sempat kujawab pertanyaan Yani. Tiba tiba Yani nyeletuk” eh Mirna kok baru nongol”. Aku menoleh ke kanan, Mirna sudah  di pintu lalu masuk dan duduk disampingku. Aroma parfumnya yang sejuk dan sudah kukenal.

“ Kemarin teman teman bertanya kemana Aril ?”

“ Lalu apa jawabnya ?” Tanya Yani.

“ Mulanya saya jawab tak tahu, tapi tiba tiba saya teringat,  Aril mengikuti acara bedah buku, sehingga saya jawab mengikuti bedah buku Bung Karno di Unhas”.

“ Tahu dari siapa Aril mengikuti bedah buku di Unhas” selidik Yani sambil memandangku.

Mirna tak menjawab dan menatapku agar Aku yang menjawab pertanyaan Yani.

“ Dua hari yang lalu saya ngobrol dengan Mirna. Lalu saya katakan, akan mengikuti acara bedah buku Bung Karno. Jadi kalau Yani tanya Mirna, darimana dia tahu saya ikut acara di Unhas, sayalah yang memberi  tahu dia “

“ Oh gitu ya, telah ada peraturan wajib lapor ya ? “ goda Yani sambil tersenyum kea rah Mirna.

“Eh Yani, kamu sama dengan teman teman yang lain. Mulai beranggapan antara saya dan Aril ada sesuatu. Sebab, kalau tak ada Aril, yang ditanya adalah saya. Seharusnya yang ditanya Syahrul, Yani atau Abri, bukan  saya,” Mirna membela diri.

“ Jika semua teman teman termasuk saya mengatakan, kamu dan Aril telah terjadi sesuatu atau penyesuian hati, memangnya ada yang salah, tolong tunjukan dimana salahnya ?” Mimik Yani sangat serius seraya melanjutkan, “ Ini bicara rasa atau perasaan. Sayapun bisa merasakan getar hati Aril saat melihatmu. Ini bukan main main. Jadi tak ada yang salah, jika saya dan semua teman teman di kampus ini beranggapan  yang sama tentang kamu dan Aril. Sebab cinta itu tak bersuara tapi dapat dirasakan”

Jeddah sejenak. Yani menarik napas dan membiarkan Mirna bergulat dengan sejumlah pertanyaan yang muncul dibenaknya. Apakah pertanyaan tentang kursi adalah hati sebagai simbolik yang ditanyakan Aril beberapa hari yang lalu?. Mirna menatap pohon pohon dengan desiran angin yang selalu dia rasakan saat duduk dengan Aril di depan kantor senat. Dia menikmati kebahagiaan bagai  musafir yang menemukan segelas  air zama zam. Mungkinkah Aril adalah kapal pertama  sekaligus yang terakahir yang singgah di pelabuhan hatiku ? . 

Lamunan Mirna terjaga, suara Yani semakin sulit untuk dihindari.  

“ Bukan hanya teman teman di Senat yang beranggapan ada sesuatu antara Aril dan Mirna, tapi sejumlah Dosen beranggapan yang sama, bahwa Aril dan Mirna bukan pertemanan biasa. Cara jalan kalian berdua,lalu gestur saat bersamaan, bahkan saat berbicara ketika ramai ramai dengan teman teman ada yang berbeda, semua tak luput diamati. Tegasnya, biasanya  Aril bebas berbicara dengan semua teman wanita di Senat, kini Aril sangat hati hati, tentu menjaga perasaan Mirna. Ini adalah fakta yang tak bisa dipungkiri     ”  Yani memperkuat argumentasinya.    

Mirna tak menjawab, dia hanya menunduk. Sayapun jadi heran dengan sikap kepolosan Yani yang bicara secara terbuka. Saya yakin Mirna tak siap mendengar pernyataan Yani. Sikap Yani yang kadang sulit dimengerti, namun tak ada beban baginya ketika telah melontarkan pernyataan. Apa yang dia katakan, dia yakini adalah kebenaran.

“ Sekedar Mirna ketahui.  Aril adalah sahabat sejatiku. Dia yang pahami saya, bahkan satu satunya di kampus ini yang bisa  sejalan pikiranku, yang lain masih terlalu mudah untuk memahami jalan pikiranku yang cenderung terlalu maju. Demikian pula Aril, saya bisa mengimbangi pikiran pikirannya yang sangat brilian, sehingga kami tak pernah bertengkar. Sementara dengan  Syahrul, Abri serta Bram dan Nasrul, selalu saya bertengkar, karena perbedaan fisi yang sangat tajam. Dan kalau hari ini kalian berdua terjadi penyesuaian hati, saya orang pertama yang bahagia. Sebab, tipe ideal yang diinginkan Aril, wanita tersebut harus cerdas, kriteria itu cocok untuk Mirna.” 

“ Kok Yani ketahui  hati dan perasaan Aril ?” Mirna minta kepastian.

Saya tak menunggu Yani menjawab, karena saya yakin jawaban Yani akan membuat Mirna kesulitan untuk memaknai pernyataan Yani. Saya mengambil alih pembicaraan dan membenarkan pernyataan Yani. “ Yani adalah sahabatku, dia paham getar jantungku, begitu tingginya makna persahabatan kami berdua” Tanpa saya sadari tanganku memegang tangan Mirna. Dan  Yani melihatnya dengan jelas, tapi dia berusaha mengalihkan pandangannya, seolah olah tak melihatnya.         

          8***8

Mirna datang dengan dua gelas the dan sepiring kue serta kacang, spontan Yani nyeletuk sebagai ekspresi menggoda Mirna.

“ Wah, mantap ya. Sudah tahu kesenangan Aril” kelakar  Yani sambil mengunyah pisang goreng

Mengetahui dikerjain. Mirna hanya tertawa lalu balik menyerang Yani.

“ Kalau cari pacar belajar sama Aril ya. Dia cari yang paham seleranya, kan sudah terjadi penyesuaian hati,” Nyeletuk Mirna sambil tertawa.

“ Saya tak bisa seperti Aril. Saya belum punya gambaran bagaimana sosok wanita yang cocok dengan saya, sementara Aril  telah memasang kriteria, yaitu harus cerdas. Dan hanya Mirna yang tepat untuk Aril”. 

Mirna hanya tersenyum. Jam 10.30 Mirna pamit untuk kuliah. Lagi lagi Mirna mengerjain Yani, agar seru,  yaitu saat salaman dia sengaja  mencium tanganku. Spontan mata Yani melotot lalu berujar, “ Untuk pemandangan yang baru dilihatnya, ini adalah bukti keseriusan, seperti Fatimah Alzahrah yang selalu mencium tangan Ali Bin Abu Thalib”.

Ahmad Yani Abdurahman, tapi lebih sering dipanggil Yani. Dia  putera Ternate,sosoknya sangat labil, dan sering meledak ledak.  sehingga tak banyak yang bisa memahaminya, khususnya kaum perempuan.  Padahal sebenarnya dia enak diajak untuk diskusi,pengetahuannya luas.

“ Saya pahami Mirna sebagai contoh calon isteri yang soleha. Dia memahami keinginan pasangannya. Dan satu permintaanku, agar  Aril harus serius dengannya. Jangan sia siakan Dia.” Suara Yani bergetar, sebagai isyarat dia serius mengucapkan permintaannya.

Saya menatap mata Yani. Saya ingin tahu seberapa seriusnya dia memahami sosok Mirna. Di hatiku yang paling terdalam. Sayapun meyakini figur Mirna adalah sosok isteri yang soleha. Tapi saya berpegang teguh pada takdir Tuhan, bahwa soal jodoh adalah hak perogratif Tuhan. 

“ Apakah kamu ragu dengan pernyataanku,?” Yani memegang pundakku

“ Jujur Yani. Sayapun sepertimu memandang Mirna. Tak ada keraguanku. Dia adalah tipikal calon isteri soleha, yang kelak  akan terbentuk rumah tanggah yang sakinah, mawahda dan warahma”.   

“ Lalu tunggu apa lagi ?”

“ Biarkanlah waktu yang akan menjawabnya. Saya yakin di bilik jantungnya telah ada namaku yang kekal . Demkian pula di lubuk hatiku telah ada namanya yang abadi. Biarkanlah semua mengalir seperti air , sebab laut tak pernah menciptakan gelombang, demikian pula bulan tak pernah menciptakan rembulan, semua terjadi sebagai hal yang mutlak adanya”. 

“ Aku selalu berharap, Mirna akan menjadi ibu yang kelak  melahirkan anak anaku. Menjadi anak yang saleh dan tentu saja cerdas. Anak anak yang merindukan surga sebagai kampung terindah yang kami akan tempati. Lalu Mirna akan menyanyangi anak anaknya dengan kesungguhan cintanya  ”.

“ Terlalu banyak harapan dan mimpi besarku bersama Mirna. Saya mengaguminya, seperti Rasululah yang mengagumi Sitti Aisyah yang selalu dipanggil Chumairah. Saya mencintainya seperti ibrahim yang mencintai Sitti Hajar dan saya menyayanginya seperti Ali i Bin Abi Thalib yang menyayangi Fatimah Alzahrah”  

“ Saya ikut mengamini semua harapanmu”.   Yani memberi semangat.                               

                **888*

Waktu terus berjalan seperti busur panah yang menuju titik sasaran, tak ada lagi yang terbungkus dibalik selimut misteri. Aku dan Mirna telah berani menampakan kebersamaan yang sesungguhnya, tak ada lagi bisik bisik. Dan akupun memahami, makna kursi yang pernah kukatakan beberapa waktu lalu, Mirna telah memahaminya. Buktinya keberadaaan kami semakin jelas, seperti  dua bunga yang mekar di taman yang indah. 

Cuaca gerah, tapi perasaan kami sejuk. Akupun kembali dengan bahasa bersayap.” Aku adalah pengembara ketika masuk hutan dan menebang pohon. Semua daun, batang dan dahannya dari pohon yang aku tebang, aku bawa ke rumah, tak ada yang kusimpan di hutan”.

Mirna tak bereaksi terhadap kalimat yang telah kukatakan. Aku yakin dia pahami maknanya. Buktinya dia tak bertanya. Namun terjadi perubahan pada wajahnya. Dia tegang, seperti ingin lari, atau  terjadi beda pemahaman antara saya dengan dia. Saya menunggu beberapa waktu, jika ia bertanya saya akan jelaskan makna kalimat tersebut.

Di mata Mirna, sesunggguhnya saya bukan tipe laki laki yang melodramatik. Saya bertanggugjawab penuh untuk dirinya. Saya hadir untuk seluruh kesatuan yang totalitas untuk keluarga yang kelak kami bina, itulah makna yang sesungguhnya sebagai pengembara yang menebang pohon lalu semua di bawah ke rumah. Aku menjadi roh sekaligus jasad untuk dirinya. Semua totalitas aktifitas yang kulaksanakan akan kupersembahkan untuknya. Aku tak main main bersamanya. Aku adalah seruling dan semua nada indah untuknya, sebagai orkestra kehidupan yang kami akan jalani dengan ketulusan cinta dan sayang yang diamini para malaikat di surga.

Mirna adalah aku demikian pula aku adalah Mirna yang telah manunggal. Seakan akan kami dilahirkan untuk dipersatukan, dalam gelombang cinta yang abadi. Sehingga kadang saya membenarkan dalam hati, ketika teman teman mengatakan, Aril dan Mirna tak bisa berpisah. Sebab yang nampak adalah kekuatan kesatuan cinta yang abadi. Mirna sangat telaten memperhatikan dan menghadirkan magnet cintanya untuku.        

Tanpa terasa, semua berjalan dengan cepat. Walaupun matahari tetap setia muncul di ufuk timur dan terbenam pada orbitnya di senja hari, kebersamaanku bersama Mirna menjadi kenyataan romantis yang selalu menjadi cerita cerita indah. 

Namun semua cerita indah menjadi terhenti, prahara itu bagai tsunami untuk Mirna. Saat dia melihat kebersamaanku dengan seorang wanita. Hancur lebur harapan yang pernah dirajut bersamaku. Dia menjadi kapal yang kehilangan kemudi dan dermaga menjadi tak jelas untuk berlabuh. Air matanya menyirami ruas ruas jalan yang dia lewati. Dia terluka, dan aku telah menciptakan luka untuk dirinya. Mirna tak siap dengan kenyataan pahit yang  dilihatnya, semua persendianya menjadi remuk. Detak jantungnya bergetar sangat cepat. 

Ya, Mirna kecewa terhadapku, tak terduga hal ini akan terjadi. Dia menganggapku sebagai imam yang kelak bersamanya, kini di pelupuk matanya berubah drastis , aku telah menghancurleburkan semua kenangan bersamanya. Menenggelamkan semua mimpi mimpi indah yang pernah kami rajut, seperti merajut benang menjadi  selendang sutra. Semua telah kehilangan makna lalu berubah menjadi kengerian yang menyakitkan.           

Luka itu terlalu dalam dan perih, dunia tak lagi indah, berubah menjadi gelap dan menakutkan. Mirna berubah, menjadi pribadi yang pemurung, sering menyendiri, tak ada lagi canda yang sering menghiasi setiap kata kata yang  dia ucapkan. Mirna menjalani hari  harinya dengan harapan  yang kosong. Gambaran untuk terus bersamaku menjadi empedu hitam. Tentu dia akan memusuhiku dan menyumpahku dunia ahirat sebagai pria tak setia .

Mirna membenciku sebagai laki laki yang sangat gampangnya mempermainkan hati wanita. Bahkan mungkin dia akan  mengumpatku sebagai laki laki yang tak tahu balas budi, ibarat air susu dibalas air tuba. Pengorbanan waktu dan kesetiaan mendampingku serta penyerahan cintanya kepadaku tak ada nilainya. Mirna merasa terzalimi.    

***8

  Puluhan atau  mungkin sudah ratusan purnama telah terlewati di angka seperempat abad. Aku dan Mirna tak pernah bertemu lagi. Dia telah hilang  ditelan waktu akibat kekhilafanku. Lukanya terlalu perih. Kini,   27 tahun kemudian. Aku menemukan dirinya telah berada dalam sangkar emas. Dia telah bahagia dengan keluarga kecilnya.

Tuhan sangat indah mengatur pertemuanku dengannnya, seperti pertemuan Nabi  Adam  dan Sitti Hawa di jabal Rahma. Kami berpisah dengan  luka yang perih, namun kami bertemu dengan senyum yang bahagia. Mirna menjabat tanganku, lalu mengucapkan selamat datang di Kota Makasar. Aku terharu. Sejenak saya berpikir, benarkan ini Mirna atau reingkarnasi darinya. Air mataku spontan mengalir, tapi kusengajah mengalihkan pandangan,agar dia tak melihatku menangis. 

Tangis haru yang tak bisa terbendung. Lalu dengan suara lembutnya dia mengatakan, Tuhan masih sayang terhadap kita, sehingga dipertemukan kembali diusia melebihi setenga abad . Saya mengangguk lalu berguman dalam hati, begitu mulianya hatimu.

Mirna menyambutku. Tak ada guratan kebencian diwajahnya. Tak ada dendam yang nampak. Dia hadir laksana  setitik embun untuk membasahi hatiku yang kosong. Mirna hadir seperti sufi Rabiatul Adawia, yang selalu berdoa kepada Tuhan. Wahai Tuhanku yang maha perkasa, jangan masukan aku ke surgamu karena  Sahadatku sebagai wujud persaksian atas keislamanku. Lalu jangan masukan aku kesurgamu, karena shalatku, puasaku, zakatku dan hajiku serta amal amalanku yang lain. Tapi masukan aku kesurgamu karena cintamu kepadaku.

Hari ini aku kembali bertemu dengan Mirna. Bertemu dengan pribadi yang mengedepankan kemulian hatinya. Aku telah  mencampakan  mimpinya serta menenggelamkan  harapannya. Tapi kini dia menyambutku dengan senyum dan rona kebahagian.  Dia begitu tegar menghadapiku. Melupakan penghianatakan yang pernah  kulakukan padanya. Hatinya bening selembut sutra. AKu tak bisa melupakannya, aku semakin kagum padanya.  

 

 Raha, 20 Juni 2018.

Penulis : Syahrial Ashaf

Editor : Syahrial Ashaf

Tag : Sedekah